-->

Tahun Politik & Kesadaran Politik Semu

Editor: Manus.id author photo

Kemunculan dunia digital, menjadi satu langka, kemajun informasi. Media sosial selain ruang  transformasi, di situ tempat saling tukar pendapat. Sering kita temui Kebebasan berpendapat meluas, melampaui realitas dari yang baik dan juga buruk,

Dobrakan kebebasan ini, kemudian berpengaruh, serta mempenggaruhi perilaku sosial. Setiap manusia menjadikan media sosial sebagai tempat expresi, mempererat persaudaraan, dan kebersamaan sosial, harapan ini malah menjadi memudar, alias ”hayalan tingkat tingi, tetapi mimpi yang tak sempurna”.

Akhir akhir ini ujaran kebencian, permusuhan, tindakan  agresif, dan egoisme melambung tingi. dinamika media sosial, serta pertarungan argument, sangatlah tajam, lebih tepatnya, tajamya kebencian.

Pembenaran bukan lagi menjadi persyarat, yang terpenting bagaimana arti kebebasan itu terealisasi, hebatnya setiap induvidu berekspresi, tampa sensor.

Manusia bisa saja menumpuhkan apa saja di sana. Di tahun politik “Pilkada”, media sosial, di isi dari slogan ”lanjutkan” sampai pada “torang jos” terlihat memanas, saling hujat ataupun memberikan dukungan penuh.

Menggilanya  argumen politik ini, media sosial terlihat ramai, orang orang menjadikan media sosial sebagai instrument, batu loncatan transformasi dari berita bijaknya para kandidat, sampai pada berita bejatnya para  kandidat.

Tahun politik para pegiat media sosial, tidak mampu membedakan mana hoax dan yang benar, permusuhan media sosial sangat membahayakan, seperti di ingatkan “kolumnis jens jessen, media sosial bukan mempererat persahabatan, atau persaudaraan, malah mempertajam permusuhan.

Orang bisa saja saling mengucilkan, mereka dalam perbedaan pandangan saling menjatuhkan, negative, positive argument kebencian biasa di temukan, setiap grup grup media sosial.  Faceebok ada namanya Grup Halut Memilih, berbagai suku ras dan agama, setiap orang dengan latar belakang berbeda mengisi kolom kosong,

Grup itu sebagai tempat prebutan kuasa kata, pamflet kandidat, visi misi di pajang untuk menarik perhatian serta menamba kebencian, yang tidak sepaham, mulai mencari cara untuk menjatuhkan.  

Momen saling menjatuhkan ini terasa lucu, yang lebih lucunya lagi, para mahasiswa serta dosen sebagai tenaga pengajar berusaha menebar kebencian, sering kita temui argument yang melampaui realitas, artinya apa yang sedang di sampaikan terlihat kosong dalam dunia nyata.

Politik menghendaki tujuan umum, menciptkan keadilan, dan kesejahtraan. Tujuan ini sering kita temukan di berbagai literatur, anehnya politik uang dan transaksional antara pejabat publik  membudaya, menghadirkan pola baru menarik perhatian masyarakat dengan uang, ataupun janji jani manis, prilaku ini sangat mengancam masa depan politik serta melahirkan pemimpin pemimpin korup dan konservatif.

politik uang ini memang lekat dengan praktik kekuasaan, diperlukan etika berpolitik sehat, penerapan etika politik mengarah pada terciptanya prilaku baik, “paul ricoeur 1990”.

Sangatlah penting pendidikan etika politik terhadap masyarakat, peran, serta keterlibatan  partai politik di butuhkan, agar masyarakat dalam partisipasi politik, mampu memberikan hak suara serta memahami cara cara politik sehat serta beretika dalam berpolitik.

Ruang Publik & Kesadaran Politik

Ruang publik, dari konsensus sampai pada pertentangan idiologis, merupakan dinamika sosial, di situ segalah dukungan dan kemarahan di tuangkan.

Datang dari berbagai penjuru, dengan hasil surveinya, setiap orang menunjukan data para kandidat  satu dan lainya yang bakal menang ditahun ini.

Cita cita ataupun mimpi tingkat tingi ini sebagai semangat ”tim sukses” ya, pemberian nama sukses biar kinerjanya selalu termuat kata “menang”, dalam berkampanye, secarah lisan ataupun simbol dan tulisan , seperti komentar di Koran media sosial lainya.

Sering kita temui manusia manusia seperti dewa “zeus” ataupun “Hermes” sang pembawa berita gembira, banyak kita temukan orang orang seperti ini, di tahun momen politik, yang selalu mengangap diri pintar, paling hebat, paling tau, paling mumpuni, manusia seperti ini, dalam analisis platon,

manusia yang akhirya hanya akan di kelilingi para cukong, dan mereka akan di jadikan penyebar kebencian, dari doktrinasi politik jahat. Betapapun hebohnya perang kebencian yang beredar, sampai kita lupa tujuan bersama, demokrasi menuntut terciptanya keadilan, kesejahtraan dan masi banyak lagi menjadi tujuan kita bersama.

Pendidikan politik, dan peningkatan sumberdaya manusia sangatlah penting, serta peran pemerintah dalam hal ini sebagai penangung jawab. ”Dari menebar kebencian kita mengetahui keburukan, dari keburukan kita membenah diri untuk politik masa depan yang sehat dan baik”.

Penulis : Mardianto Zulkarnain (Pegiat Literasi Falasany Maluku Utara, Ketua Devisi Kampanye Isu Lingkungan Malut)
Editor : Redaksi

Share:
Komentar

Berita Terkini