-->

Stigma Mahasiswa Papua dan hasty generalization

Editor: Manus.id author photo

(Dok Ist Geogel)

MANUS.ID Opini -- Foto terlampir dibawah ini adalah tangkapan layar sebagian percakapan antara saya dengan salah satu pemilik indekos di Jogja pada 21 Januari 2020 lalu. Mulanya saya tidak tertarik untuk memposting ini di medsos, tetapi akhirnya mempostingnya juga dengan paling tidak dua alasan.

Pertama, dalam dua bulan belakangan dua kawan saya mengalami hal yang kurang lebih sama motifnya. Ini cukup disayangkan.

Kedua, agar publik luas juga tahu, karena ini merupakan persoalan klasik, duri dalam daging, yang saya yakin kerap dialami juga oleh kawan-kawan saya yang lain dari Papua di Jogja 

Ceritanya begini,  Pada waktu itu, kakak saya yang kuliah magister di Universitas Gadjah Mada (UGM), yang kebetulan sedang melakukan penelitian untuk tesisnya di Papua, berencana pindah tempat tinggal karena masa tinggal di indekos tempat dia tinggal hampir habis.

Saya disuruh pergi cek indekos baru yang sudah dilobi sendiri oleh kakak saya secara daring di sekitar Bantul. Saya dikasih kontak WA milik sang pemilik indekos. Kemudian mengontak nomor tersebut, memperkenalkan diri, dan dikasih alamat lengkap indekos yang dituju agar langsung memastikan tempatnya.

Sekitar pukul 13.55 WIB sore saya menuju ke alamat yang dikasih oleh pemilik indekos, dari tempat tinggal saya. Pukul 14.14 WIB saya tiba di sana. Persis di depan indekos.

Sekilas mengamati, rumahnya berpagar besi. Bertingkat dua. Memanjang ke belakang, dan memiliki pekarangan yang cukup luas serta terbuka.

Ada juga garasi untuk menyimpan kendaraan yang bersebelahan dengan pohon jambu air yang cukup rindang. Jarak dari jalan ke rumah tersebut sekitar 15 meter.

"Ini pasti indekos berinduk semang," pikir saya. Indekos berinduk semang adalah model indekos yang sekalian di situ tempat tinggal sang pemilik indekos.

Pada pukul 14.15 WIB, saya kontak pemilik indekos dan bilang bahwa saya sudah tiba di depan. Pesan yang saya kirim centang dua warna biru, pertanda telah dibaca. Sekilas saya melihat ke dalam rumah, ada seseorang turun melalui tangga-tangga menuju pintu depan di lantai satu.

"Oh, itu pasti orangnya," kata saya, membatin. Pintu tak kunjung dibuka. Dua menit kemudian, pukul 14.17 WIB, ada pesan masuk dari pemilik indekos tersebut. Isinya kira-kira begini, "Maaf, Mas. Barusan ada yang bayar untuk ditempati. Tadi sudah ditunggu, tapi ada orang lain yang duluan ambil. Maaf." Selengkapnya silakan baca di foto sckreenshot dibawah ini.

Apa selanjutnya? Ya saya pulang. Banyak pertanyaan berkelebat di kepala selama perjalanan. Bagaimana kebenarannya? Apakah betul seperti yang dibilang oleh bapak pemilik indekos, bahwa kamar indekos tersebut telah disewa orang lain ketika saya masih dalam perjalanan tadi dari tempat tinggal saya? Atau, itu hanya alasan untuk tidak menerima saya, yang setelah dilihatnya, ternyata dari Papua?

Kalau kebenarannya adalah pertanyaan yang kedua, kenapa? Kenapa saya tidak diterima hanya karena saya orang Papua? Bukankah seperti para penghuni indekos lainnya, kakak saya juga akan membayar uang indekos? Bukankah seperti para penghuni indekos lainnya, kakak saya juga akan menaati aturan yang sudah ditetapkan di indekos? Dan aturan indekos lainya

Hal lain yang juga menjadi pertanyaan, jika dirunut urutan waktu percakapan kami adalah pesan yang saya kirim pada pukul 14.15 WIB dan langsung centang dua berwarna biru itu baru dibalas pada pukul 14.17 WIB. Artinya ada jeda dua menit. Ada tempo. Apa yang dilakukan si pemilik indekos selama dua menit itu?

Dugaan saya (ini dugaan; bisa benar, bisa tidak), selama dua menit itu sang pemilik indekos memastikan siapa saya dari dalam rumah. Setelah tahu bahwa saya dari Papua, si pemilik indekos langsung membuat pembenaran dan mengatakan maaf kamarnya sudah dipesan,

untuk menjustifikasi niatnya: tak mau menerima mahasiswa Papua di indekosnya.

Kenapa beberapa pemilik indekos (artinya tidak semua) tak mau menerima mahasiswa Papua? Sejauh pemahaman saya, penyebabnya antara lain adalah karena pemilik indekos biasanya memiliki pengalaman traumatis dengan mahasiswa Papua.

Atau, pernah mendapat kabar tentang keburukan mahasiswa Papua dari pihak luar, entah itu melalui media massa dan atau media sosial, atau omongan orang, yang kadang tidak banyak benarnya.

Baik pengalaman pribadi maupun informasi tentang keburukan mahasiswa Papua yang didapat seringkali digeneralisasi dan lantas dijadikan dasar oleh beberapa pemilik indekos untuk tidak menerima mahasiswa Papua.

Mereka berdalih, penolakan terhadap mahasiswa Papua justru merupakan solusi; tindakan preventif atau pencegahan untuk terjadinya hal-hal yang tak diinginkan. disini, beroperasilah apa yang disebut dengan hasty generalization – salah satu bentuk logical fallacy.

Hanya karena pernah melihat satu orang dari kelompok A berkelakuan A, lantas menganggap semua orang dari kelompok A berkelakuan A. Atau hanya karena pernah mendapat kabar bahwa orang dari kelompok A suka melakukan tindakan A, lantas berkesimpulan bahwa semua orang dari kelompok A suka melakukan tindakan A. Padahal tidak selalu begitu dan tidak sesederhana itu.

Manusia itu kompleks, yang menarik juga di sini, mengapa orang begitu mudah terjebak dalam sesat pikir seperti di atas, hingga berbuntut melakukan tindakan diskriminatif (baik diskriminasi ras, gender, umur dan seterusnya)? Mungkin bisa dikaji lebih lanjut.

Stereotip negatif yang terbangun di masyarakat seperti mahasiswa Papua itu tukang minum (pemiras), terbelakang, pembuat keributan, suka demonstrasi (tidak nasionalis), suka membawa banyak teman ke indekos, tidak tertib berlalu lintas di jalan raya, sering tidak membayar uang indekos sesuai batas waktu, ini juga menjadi dalih bagi sebagian pemilik indekos untuk tidak menerima mahasiswa Papua.

Orang kalau sudah meyakini stereotip yang ada sebagai suatu kebenaran tanpa bersikap kritis, akan terjebak pada prasangka/prejudice. Kita tahu, prejudice adalah persepsi atau perasaan buruk terhadap suatu entitas tertentu tanpa bukti yang cukup. Orang yang punya prejudice cenderung melakukan tindakan diskriminatif

Mahasiswa Papua di Jogja telah, sedang, dan entah sampai kapan terbelenggu stereotip. Sulitnya mahasiswa Papua di Jogja mendapatkan indekos adalah hanya salah satu dampak dari adanya stereotip.

Setiap suku, ras, memang memiliki stereotip. Misal: orang Jawa itu ramah. Orang Batak itu cerewet. Orang Makasar itu kasar. Orang China itu pelit. Betul, demikian? Tidak. Nyatanya ada orang Jawa yang juga kasar. Ada orang Batak yang juga pendiam. Ada orang Makasar yang juga kalem. Ada orang China yang juga baik dan atau dermawan.

Begitulah stereotip. Ia menggiring manusia untuk menyederhanakan persoalan. Ia membuat manusia mengambil jalan pintas. Di saat yang sama, kerasionalan manusia teringkari.

Saya kira, sebagai orang yang hidup di masyarakat majemuk dengan berbagai latar belakang, sudah sepatutnya kita hidup saling menghargai. Lebih arif dalam melihat persoalan. Menilai orang lain tidak berdasarkan stereotip, tetapi secara lebih pribadi dan individual.

Semoga Jogja, dengan berbagai predikat yang menandainya, tetap lestari sebagai rumah bersama. Rumah itu suasana. Kita tentu tidak mengharapkan Yogyakarta “tercemar” hanya karena sebagian masyarakatnya masih melakukan tindakan-tindakan diskriminatif terhadap kelompok tertentu. Tabik.

Penulis : Herman Degei
Editor   : Redaksi

Share:
Komentar

Berita Terkini